Headlines News :
Home » , » Hari Jelang MEA

Hari Jelang MEA

Written By Admin on Sabtu, 02 Januari 2016 | 18.46

Jambi Optimis Tanpa Strategi

 Pemberlakuan pasar bebas ASEAN hanya menghitung hari. Hal ini menimbulkan ke khawatiran banyak pihak termasuk warga Jambi.

 PILKADA sudah usai. Para calon pemimpin daerah terpilihpun sudah ditetapkan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Hanya tiga daerah yang masih menunggu putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Namun, bukan berarti warga Jambi sudah bisa tidur nyenyak menarik selimut malam.  Tantangan kedepan semakin berat. Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) sudah dipelupuk mata. Persaingan bukan lagi antar warga Jambi, kedepan persaingan melibatkan warga 11 negara ASEAN. Tak hanya Malaysia dan Singapura, tapi juga Thailand, Filipina, Vietnam, Timor Timur, Myanmar, Kamboja, Brunei Darussalam.

Gubernur terpilih, Zumi Zolapun beberapa waktu lalu mengaku akan mengevaluasi program pemerintah provinsi Jambi. Dia akan membuat program unggulan untuk mencapai Jambi tuntas 2021.

“Saya ambil contoh pelabuhan Ujung Jabung, tetapi kita harus bicara bagaimana dalam waktu dekat ini menyonsong MEA sedangkan Ujung Jabung itu masih jauh dan panjang waktunya. Saya tahu itu karena saya bupatinya di sana,” ucapnya.

Namun untuk pelabuhan ini tetap akan menjadi perioritas. Karena pelabuhan tetap meruapakan kunci kemajuan suatu daerah. “Kita sudah punya Talang 
Duku. Dengan pelindo II kita sudah banyak kontak untuk mendorong pelabuhan untuk beroperasi,” tandasnya

Pengamat Ekonomi Jambi, Pantun Bukit, mengatakan, Provinsi Jambi, sudah terlambat mempersiapkan diri dalam menghadapi MEA 2016 ini. “Sudah sangat terlambat kalau kita baru menentukan produk. Seharusnya sudah mempromosikan produk yang akan kita andalkan di MEA nanti,” ujarnya.

Menurut Pantun, Jambi sudah banyak memiliki produk unggulan. Hanya Pemerintah kurang peka. Misalnya, di bagian timur Provinsi Jambi, sangat kaya dengan ikan, begitu juga wilayah barat, sangat kaya dengan sayur mayurnya.

“Tinggal peran Pemerintah, bisa atau tidak mengolah kekayaan alam Jambi ini. Seperti sayur mayur, jangankan untuk MEA, di Angso Duo itu, rata-rata sayur dari Jawa Barat, padahal Kerinci kaya akan sayur mayur, ini tugas Dinas Pertanian dan Dinas Perindustrian untuk mengaturnya,” kata Pantun.

Hemat Pantun, untuk mengejar ketertinggalan itu, pemerintah harus bergerak cepat. Misalnya, jika sudah menetukan produk unggulan, langsung garap bagaimana pengemasan produk tersebut, dan pemasarannya.

Untuk itu, Pantun berharap Pemerintah bisa fokus menghadapi MEA 2016 dan  jangan terlalu santai. Karena MEA ini ibarat bom waktu yang bisa meledak kapan saja, sementara Pemerintah Provinsi Jambi belum melakukan apa-apa

“Bersiap saja kita menjadi penonton di pentas kita sendiri,” pungkasnya.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan kepada para kepala desa (kades) dan perangkat desa (perdes) seluruh Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi). Mereka diminta untuk bersiap diri menghadapi MEA yang dimulai 2016.

”Artinya akan ada persaingan 11 negara ASEAN yang kita tidak tahu persaingannya akan seberat apa. Karena batas negara sudah tidak ada, MEA sudah dibuka,” papar Jokowi, dalam silaturahim bersama Apdesi di Asrama Haji Donohudan, Kecamatan Ngemplak, Boyolali, kemarin (26/12).

Namun masalah beratnya persaingan MEA juga dirasakan negara tetangga. Jokowi mengatakan, presiden dan perdana menteri khawatir negara mereka akan dibanjiri produk Indonesia. Selain itu melihat sumber daya manusia Indonesia yang melimpah, mereka juga khawatir tenaga kerja Indonesia akan membanjiri negara tetangga.

Namun perasaan itu juga dirasakan warga negara dan para pengusaha di Indonesia. ”Lha mereka saja takut pada kita. kita kok ikut takut,” kata dia.

Dia menegaskan, MEA yang akan berlangsung sudah tidak bisa dicegah. Tanda tangan dilakukan para pimpinan negara sudah terjadi sejak sebelas tahun lalu. Indonesia mau tidak mau masuk ke persaingan pasar ASEAN.

Itu baru sebatas MEA. Masih banyak perjanjian multilateral yang dilakukan Indonesia dengan sejumlah negara, seperti Trans Pasific Partnership (TPP) yang berjalan tiga tahun lagi dan sejumlah perjanjian lainnya. ”Tidak mungkin Indonesia menjadi negara tertutup. Oleh karena itu jangan gunakan pola-pola lama. Di sini ada peluang, tapi ada juga tantangan,” ujarnya.

Oleh karena itu, pihaknya menegaskan bahwa untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan roda ekonomi. Jokowi meminta tidak terjadi hitungan yang keliru hingga produk luar membanjiri Indonesia. ”Kalau itungan kita keliru, barang mereka masuk ke kita. Contoh saja beras di sini harga Rp 12 ribu, sedang Vietnam Rp 6 ribu. Jelas konsumen pilih beras Vietnam. Ini baru contoh satu produk. Maka hati-hati!” tegasnya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani  sendiri memprediksi tahun 2016 masih penuh dengan ketidakpastian ekonomi global. Karena itu, pelaku usaha diharapkan tetap berhati-hati mengantisipasi melemahnya daya beli, ekspor, dan nilai tukar (kurs) rupiah.

 ‘’Negara-negara maju masih sulit melakukan, perbaikan fiskal dan moneter karena sempitnya ruang fiskal dan beban utang mereka. Ini yang kami khawatirkan bisa memengaruhi kondisi perekonomian dunia dan Indonesia pada 2016,’’  ujarnya.

 (dez/jpnn)

Sumber : http://www.jambiekspresnews.com/berita-21270-tiga-hari-jelang-mea.html

Share this post :
 
Info Bungo : Tentang Kami | Maklumat | Disclaimer | Kontak | Komentar | Info Donasi | Surat Terbuka | Your Link
Copyright © 2009 - 2015. Info Bungo - Some Rights Reserved
Template Created by Creating Website >>
>>