Headlines News :
Home » » Saat Jabatan Dimanfaatkan...

Saat Jabatan Dimanfaatkan...

Written By Admin on Selasa, 17 November 2015 | 15.13

Malam itu di ruang kerja istana, Khalifah Umar bin Abdul Aziz (682-720) sedang menyelesaikan tugas. Putranya tiba-tiba masuk dan berkata ingin membicarakan sesuatu.

Umar lalu bertanya kepada anaknya, "Ananda ingin membicarakan urusan negara atau urusan keluarga?" "Urusan keluarga, Ayahanda," kata sang anak.

Mendengar jawaban putranya itu, Umar lalu mematikan lampu hingga ruangan menjadi gelap. "Mengapa Ayahanda memadamkan lampu itu?" tanya anaknya.

"Ananda, lampu itu milik negara. Minyaknya juga dibeli dengan uang negara. Ayah hanya dapat menggunakan lampu itu jika sedang bekerja untuk kepentingan negara. Sementara urusan yang akan ananda bicarakan adalah urusan keluarga," kata Umar.

Umar lalu mengambil lampu dari ruangan lain dan menyalakannya. "Lampu yang kita nyalakan ini adalah milik keluarga kita. Minyaknya pun dibeli dengan uang kita sendiri. Sekarang mari kita bicara urusan keluarga kita."

Karakter dan integritas pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz itu kini menjadi harapan di Indonesia. Harapan itu makin terasa saat sebagian elite di negeri ini seolah tanpa malu dan jera terus melakukan korupsi.

Kepentingan pribadi

Meski sudah banyak rekan mereka yang diproses hukum karena korupsi, praktik memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi dan kelompok ditengarai masih dilakukan sejumlah politisi di Indonesia. Fenomena itu antara lain terlihat dari penggunaan dana operasional menteri (DOM).

Saat ini mantan Menteri Agama Suryadharma Ali serta mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik tengah diadili di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta dengan dakwaan memakai DOM untuk kepentingan pribadi.

Suryadharma yang mendapat uang DOM Rp 100 juta per bulan saat menjabat Menteri Agama diduga menyalahgunakan DOM dalam kurun waktu 2011-2014. Suryadharma didakwa menggunakan DOM di luar tujuan DOM, yakni untuk menunjang kegiatan yang bersifat representatif, pelayanan, keamanan, biaya kemudahan, dan kegiatan lain guna melancarkan tugas menteri.

Berdasarkan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum KPK, Suryadharma menggunakan DOM untuk membayar biaya pengurusan visa, membeli tiket pesawat, pelayanan di bandara, serta akomodasi dirinya dan keluarga saat mengunjungi anaknya yang tengah menempuh pendidikan di Australia. Suryadharma juga didakwa menggunakan dana DOM untuk liburan keluarga ke Singapura.

Padahal, Pasal 2 Ayat 3 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 03/PMK.06/2006 tentang Dana Operasional Menteri atau Pejabat Setingkat Menteri menyatakan, Dana Operasional Menteri/Pejabat setingkat Menteri digunakan berdasarkan pertimbangan kebijakan/diskresi Menteri/Pejabat setingkat Menteri dengan memperhatikan asas manfaat dan efisiensi, dan tidak untuk keperluan pribadi yang tidak berkaitan dengan kebutuhan dinas atau jabatan.

Namun, di persidangan, Suryadharma membantah menggunakan DOM untuk kepentingan pribadi dan keluarganya.

Suryadharma juga mengingatkan, menteri ibaratnya bekerja selama 24 jam sehari hingga tidak bisa dikatakan sepenuhnya telah menggunakan DOM untuk keperluan pribadi. Dia mencontohkan, ketika dirinya tidur tetap dijaga pengawal yang dibayar dengan uang negara. Padahal, saat tidur, menteri tidak sedang melakukan tugas negara.

Sementara Jero Wacik didakwa menyelewengkan DOM dalam kurun 2008-2011. Saat itu, alokasi DOM di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata sebesar Rp 3,6 miliar per tahun. Jero diduga menggunakan DOM untuk kepentingan pribadi.

Di persidangan, Jero membantah dakwaan tersebut. Menurut dia, penggunaan uang DOM telah dilakukan sesuai prosedur dan tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan menteri lain.

Melihat persidangan perkara DOM di atas, kerinduan terhadap pemimpin seperti Umar bin Abdul Aziz terasa amat relevan. Dia tak hanya menempatkan hukum, tetapi juga etika sebagai panduan paling atas dalam memimpin. Siapa yang berani memidanakan Umar bin Abdul Aziz jika waktu itu ia tetap menggunakan lampu negara untuk kepentingan pribadi. Namun, dia tetap menggunakan lampu pribadi karena menempatkan etika di atas segalanya.

Namun, kini, oleh sebagian elite di Indonesia, jangankan menghargai etika, hukum pun dicari celahnya.... (M FAJAR MARTA)

Sumber : Kompas, 16 November 2015 melalui print.kompas.com

Share this post :
 
Info Bungo : Tentang Kami | Maklumat | Disclaimer | Kontak | Komentar | Info Donasi | Surat Terbuka | Your Link
Copyright © 2009 - 2015. Info Bungo - Some Rights Reserved
Template Created by Creating Website >>
>>