Headlines News :
Home » , , » BAHAN BAKAR MINYAK. Harga Premium Naik Rp 200, Solar Tetap

BAHAN BAKAR MINYAK. Harga Premium Naik Rp 200, Solar Tetap

Written By Admin on Minggu, 01 Maret 2015 | 05.40

JAKARTA, KOMPAS — Mulai Minggu (1/3) pukul 00.00, pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak jenis premium. Kenaikan harga sebesar Rp 200 per liter itu diambil akibat naiknya harga indeks pasar minyak di Singapura.

Harga premium di luar Jawa, Madura, dan Bali yang semula Rp 6.600 per liter menjadi Rp 6.800 per liter. Adapun harga minyak tanah dan solar tetap, masing- masing Rp 2.500 per liter dan Rp 6.400 per liter.

Harga premium di Jawa, Madura, dan Bali yang ditetapkan Pertamina juga naik Rp 200 per liter. Dengan demikian, harga premium di Jawa, Madura, dan Bali yang semula Rp 6.700 per liter menjadi Rp 6.900 per liter.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said menyampaikan hal itu kepada Kompas saat dikonfirmasi melalui pesan layanan singkat, Sabtu (28/2).

"Bahan bakar minyak premium di luar Jawa, Madura, dan Bali adalah bahan bakar minyak penugasan yang harganya ditetapkan pemerintah," ujarnya.

Keputusan pemerintah menaikkan harga itu akibat lonjakan harga indeks pasar minyak di Singapura atau Mean of Platts Singapore (MOPS) sepanjang Februari 2015. MOPS premium pada Februari 2015 sebesar 55-70 dollar AS per barrel.

Sebenarnya, MOPS gasoil atau solar lebih tinggi, berkisar 62-74 dollar AS per barrel. Namun, pemerintah tidak menaikkan harga jual solar dan minyak tanah dengan alasan menjaga kestabilan perekonomian nasional. Pemerintah juga masih memberikan subsidi Rp 1.000 per liter untuk solar.

"Kenaikan MOPS periode Februari cukup signifikan. Harga premium dinaikkan untuk menjaga stabilitas ekonomi dan mempertimbangkan selisih harga sepanjang bulan Februari," ujar Sudirman.

Mengenai harga premium di Jawa, Madura, dan Bali yang menjadi Rp 6.900 per liter, Direktur Pemasaran PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang mengatakan, idealnya, kenaikan harga premium paling sedikit Rp 400 per liter.

"Kami memahami kondisi masyarakat sehingga harga premium dinaikkan Rp 200 per liter dari idealnya Rp 400 per liter. Masyarakat kita masih diguncang kenaikan harga beras dan persoalan elpiji. Kenaikan harga premium belum maksimal. Kenaikan harga solar dan minyak tanah kami tangguhkan," tutur Ahmad.

Kendati kenaikan harga premium di Jawa, Madura, dan Bali belum maksimal, lanjutnya, Pertamina tidak merugi. Akan tetapi, laba yang diperoleh Pertamina belum mencapai taraf kewajaran. Ahmad menegaskan, kondisi kekinian masyarakat menjadi pertimbangan utama Pertamina dalam menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM).

Sudah tepat

Pengamat energi dari Universitas Trisakti Jakarta, Pri Agung Rakhmanto, menyatakan, langkah pemerintah menaikkan harga premium sudah tepat. Pasalnya, harga minyak dunia meningkat dalam beberapa hari terakhir meskipun tidak terlalu signifikan. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS juga melemah. Sepanjang Februari 2015, nilai tukar rupiah berkisar Rp 12.609- Rp 12.887 per dollar AS.

"Dua faktor tersebut, yaitu harga minyak dunia yang naik perlahan serta lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, adalah alasan yang cukup untuk menaikkan harga BBM. Kenaikan harga Rp 200 per liter itu cukup wajar," ujar Pri Agung.

Soal harga BBM yang dikaji pemerintah setiap bulan, lanjut Pri Agung, hal itu diyakini tidak akan membuat masyarakat bingung. Masyarakat sudah terbiasa dengan harga BBM yang dinamis. Masyarakat juga memahami harga BBM tidak mungkin terus turun.

Harga BBM sudah empat kali berubah pada era kepemimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Pada 18 November 2014, pemerintah menaikkan harga premium dari Rp 6.500 per liter menjadi Rp 8.500 per liter. Pada 1 Januari 2015, harga premium turun menjadi Rp 7.600 per liter.

Pada 19 Januari 2015, harga premium turun lagi menjadi Rp 6.600 per liter di luar Jawa, Madura, dan Bali serta Rp 6.700 per liter di Jawa, Madura, dan Bali. Terakhir, harga BBM berubah lagi mulai hari Minggu ini.

Kendati harga minyak dunia merangkak naik, Pri Agung memprediksi tidak akan terlalu tinggi. Harga minyak dunia diperkirakan bertahan di kisaran 50-60 dollar AS per barrel dalam jangka waktu lama.

Terbatasnya kenaikan harga minyak, menurut Pri Agung, dipengaruhi faktor fundamental, yakni melimpahnya pasokan di tengah rendahnya permintaan. Beberapa negara di Eropa kini mengembangkan energi alternatif untuk tidak bergantung pada minyak.(APO)

Sumber: Kompas 1 Maret 2015, melalui http://print.kompas.com/baca/2015/03/01/Harga-Premium-Naik-Rp-200,-Solar-Tetap

Share this post :
 
Info Bungo : Tentang Kami | Maklumat | Disclaimer | Kontak | Komentar | Info Donasi | Surat Terbuka | Your Link
Copyright © 2009 - 2015. Info Bungo - Some Rights Reserved
Template Created by Creating Website >>
>>