Headlines News :
Home » , , » Atitje, Relawan Kain Tradisional

Atitje, Relawan Kain Tradisional

Written By Admin on Jumat, 24 Juli 2009 | 06.11

Jumat, 24 Juli 2009 | Kompas.com
EDNA C PATTISINA

Berbicara dengan Atitje, begitu Sativa Sutan Aswar dipanggil, bagaikan bertemu ”manusia langka”. Bukan hanya karena dia banyak bergelut dengan kain tradisional yang kian langka. Pemikirannya ”nyeleneh”. Kegiatannya pun tak biasa. Dia membina perajin kain dengan dana pribadi.

Sejak tahun 1998 Atitje membina perajin kain tradisional di Sumatera Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Jambi. Total, 200 perajin yang dia bina. ”Apa yang disebut membina itu proses belajar sekitar 3-6 tahun. Bukan hanya kita datang sekali, bawa rancangan, mereka bikin, terus kita pergi,” katanya.

Di Jambi, misalnya. Atitje mulai dari dasar. Tahun 1999 ia diminta Gubernur Jambi Zulkifli Nurdin meriset sejarah kebudayaan Sumatera melalui Sungai Batanghari. Pemegang gelar doktor sejarah dan kebudayaan dari Ecole Des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) Paris, Perancis, ini mengatakan, salah satu hasil penelitiannya, kain tak lepas dari budaya di selatan Sumatera.

Kain adalah bagian penting dari adat. Kain digunakan dalam berbagai acara tradisi dan kebutuhan sehari-hari. ”Kepala itu sakral, kita punya tutup kepala asli dari Jambi,” katanya.

Mulai 2002 Atitje mentransfer ilmunya kepada perajin, mulai dari berbagai motif, komposisi warna, mewarnai benang, hingga ragam hias. Ada sekitar sembilan kabupaten di Provinsi Jambi yang sering dia datangi untuk mengajar, di antaranya adalah Bungo, Sorolangun, dan Merangin

”Saya hanya mempersiapkan mereka menghadapi kebutuhan pasar,” katanya.

Pada saat itu istri Gubernur Jambi, Ratu Munawaroh, tengah menyosialisasikan penggunaan kembali kain tradisional. Atitje membuat kerajinan tradisional menjadi industri yang punya keberlanjutan pasar. Misalnya, ia mengajari membuat songket dengan harga lebih terjangkau, menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) berbahan baku poliester.

”Biar bahan baku murah, yang penting komposisi, motif, dan selera desainernya bisa meningkatkan kualitas kain. Di sinilah saya jadi relawan,” kata lulusan Jurusan Desain Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung ini.

Dari kantong sendiri

Relawan, begitu Atitje mendefinisikan dirinya. Jangan ditanya soal biaya, semua keluar dari kantong sendiri. Ia menolak membeberkan berapa uang yang dia keluarkan. Namun, dari benang seharga Rp 125.000 untuk bahan baku sehelai kain, biaya operasional seperti transportasi, akomodasi, dan komunikasi, hingga uang muka untuk perajin, dia tanggung. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun.

Bahkan dia pula yang mencarikan bahan baku karena di Jambi sulit mencari benang yang diinginkan.

”Saya enggak tahu berapa uang yang dikeluarkan. Saya enggak mau tahu. Daripada saya berhitung-hitung, nanti malah sakit hati,” katanya.

Ia mengakui, tindakannya selama ini sama sekali tak ekonomis. Bahkan, selalu menggerus uang belanja rumah tangganya. Namun, ia memiliki logika sendiri.

”Saya bilang kepada suami, ’Man (Arif Arryman), daripada beli tas mahal, mending saya minta uang buat perajin, lebih berguna’,” katanya.

Pengeluaran tak dia hitung, demikian juga pemasukan. Kain-kain dari perajin ia tampung di gudang rumahnya. Kalau ada teman yang berminat, kain itu dia keluarkan dengan imbalan biaya produksi.

”Saya ini pengajar, bukan mau berdagang kain,” katanya.

Dukungan ekonomi keluarga

Atitje bisa beraktivitas karena dukungan ekonomi keluarga. Tak sekali suaminya, Arif Arryman, pengamat ekonomi yang menjadi salah satu komisaris independen PT Telkom, geleng-geleng kepala karena aktivitas sang istri menyita uang belanja.

Pasangan ini bertemu semasa mahasiswa ITB, tahun 1978. Rumah kontrakan Atitje, anak pejabat di Angkatan Udara RI, Sutan Aswar Datuk, di Jalan Kitiran, Bandung, menjadi salah satu markas aktivis. Arryman adalah salah seorang aktivis mahasiswa.

Kenapa dia mau menjadi relawan bagi perajin kain?

”Kain ini cuma alat. Saya sosiolog. Saya ingin menyampaikan kepada banyak orang tentang nilai-nilai hidup yang saya percayai,” katanya.

Awalnya Atitje sempat menjadi dosen di Universitas Trisakti dan Institut Kesenian Jakarta. Namun, sebuah pertemuan dengan Prof Widagdo, dosennya di ITB, mengusik hatinya.

”Ngapain kamu jadi dosen? Dosen itu kan karyawan,” kata Atitje menirukan ucapan dosen pembimbingnya itu.

Selanjutnya, Atitje ikut sang suami yang studi ke Perancis. Ia ikut melanjutkan pendidikan. Skripsi sarjananya, ”Evolusi Industri Tekstil di Sumatera Barat”, diajukan ke Dennys Lombard dan mendapat sambutan. Ia meraih gelar doktor dengan tesis tentang evolusi industri tekstil abad ke-16.

Pulang ke Indonesia, ia melihat kain sebagai alat yang bisa menjadi medium untuk menyampaikan ”pesan”. Di pelatihan, misalnya, saat ia mengajarkan gradasi warna dari merah ke biru yang dibahas bukan hanya masalah warna.

”Saya bilang, ’Lihat, enggak ada warna yang sama. Tiap orang punya rezeki dari Tuhan, enggak usah iri-irian’,” katanya menyinggung perajin yang tak mau bekerja sama dan berbagi pengetahuan, bahkan saling memfitnah.

Atitje menekankan, kain itu tak sekadar hasil kerajinan tangan. Ada gagasan kebudayaan yang di antaranya terdiri dari aturan adat dan diekspresikan lewat berbagai motif tenun tradisional.

Di Minangkabau, misalnya, motif itik pulang patang atau itik pulang sore, berbentuk huruf S, dan digunakan sebagai batas pinggir horizontal. Dengan metafora bebek yang fleksibel, bisa berjalan di tanah dan berenang di air, motif ini hendak menggambarkan orang Minang yang fleksibel, mampu beradaptasi dan bekerja sama.

”Semua kain adat itu ada ayat-ayat kehidupannya. Itulah yang ingin saya sebarkan karena kita kehilangan nilai-nilai itu,” kata Atitje.

Sumber:http://koran.kompas.com

Sarang Semut Papua - Herba Anti Kanker No. 1!
Share this post :
 
Info Bungo : Tentang Kami | Maklumat | Disclaimer | Kontak | Komentar | Info Donasi | Surat Terbuka | Your Link
Copyright © 2009 - 2015. Info Bungo - Some Rights Reserved
Template Created by Creating Website >>
>>